Biopharmaca BiofarmakaImplementation of Good Agricultural Practices (GAP) with Organic System at Community around Forest In District Sukabumi
Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

BRC SosMed

 facebook   google plus    twitter    linkedin    youtube  
 
           youtube

Home

IMPLEMENTATION OF GOOD AGRICULTURAL PRACTICES (GAP) WITH ORGANIC SYSTEM AT COMMUNITY AROUND FOREST IN DISTRICT SUKABUMI

Pusat Studi Biofarmaka LPPM-IPB

By: Taopik Ridwan (Secretary Division of Natural Resource Development and Cultivation).






Penerapan Praktek Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices) dengan Sistem Organik pada Masyarakat Sekitar Hutan di Kabupaten Sukabumi

Masyarakat sekitar hutan di Kabupaten Sukabumi sebagian besar merupakan masyarakat yang miskin dan bermatapencaharian sebagai petani dimana salah satu komoditi yang mereka usahakan adalah tanaman obat atau biofarmaka. Namun budidaya tanaman obat masih dilakukan petani secara sederhana sehingga mutunya tidak standar. Hal itu mengakibatkan produk tanaman obat petani tidak memenuhi persyaratan sebagai bahan baku industri yang akibatnya petani tidak menerima harga yang layak atas produk mereka.

Pelatihan desiminasi teknologi budidaya tanaman selain dilakukan kegiatan pelatihan perlu diimbangi dengan kegiatan demonstrasi plot untuk mempercepat proses alih teknologi dari peneliti kepada petani. Demonstrasi plot tanaman rimpang merupakan kegiatan yang dilakukan di lahan pertanian dengan melibatkan langsung para petani yang tergabung dalam kelompok tani tanaman obat.

Penerapan praktek pertanian yang baik (Good Agricultural Practices) pada tanaman akan dilakukan dengan menggunakan “Sistem Pertanian Organik”. Penerapan sistem pertanian organik pada tanaman rimpang akan dilakukan menggunakan penerapan pola tanam sisip (interplanting) dan peningkatan kesuburan lahan melalui pemupukan.

Kegiatan demonstrasi plot akan dilaksanakan dilahan kering yang mempunyai karakteristik pH rendah, struktur tanah kurang baik, kandungan hara rendah. Oleh karena itu perlu adanya penambahan kapur, bahan organik dan rock fosfat.

Tujuan yang diharapkan dari kegiatan demonstrasi plot pada tanaman rimpang (temulawak, jahe dan kunyit) adalah untuk melatih petani mempraktekan langsung GAP tanaman rimpang secara organik, mempercepat alih teknologi budidaya tanaman rimpang dan meningkatkan kerjasama antara petani dalam kelompok petani tanaman obat.

Beberapa budidaya yang dipraktekan adalah temulawak sistem monokultur, temulawak di bawah tegakan, temulawak dengan sistem tanam sisip dengan palawija (jagung), jahe sistem monokultur, jahe di bawah tegakkan, jahe dengan sistem tanam sisip dengan palawija (jagung), kunyit di bawah tegakkan, kunyit di bawah tegakkan pohon dan kunyit dengan sistem tanam sisip dengan palawija (jagung).

Berikut beberapa contoh gambar demonstrasi plot budidaya tanaman rimpang (temulawak, jahe, kunyit). 

     
Gbr. Temulawak Sistem Monokultur                                    Gbr. Temulawak dibawah tegakkan Jabon

     
Gbr. Jagung Manis sisip dengan Temulawak                         Gbr. Jahe Sistem Monokultur

     
Gbr. Jahe dibawah tegakkan Jabon                                     Gbr. Jagung Manis sisip dengan Jahe

     
Gbr. Kunyit dengan Sistem Monokultur                                Gbr. Kunyit dibawah tegakkan Jabon

     
Gbr. Jagung Manis sisip dengan Kunyit                                Gbr. Hasil Panen Jagung Manis

     
Gbr. Hasil Panen Jahe Gajah                                               Gbr. Hasil Panen Jahe Gajah

<opik/ta>
Back to TropBRC News....

BRC Site Statistics

  • Unique Visits Today348
  • Unique Visits Yesterday184
  • Visits This Week1606
  • Visits Previous Week1354