Biopharmaca BiofarmakaThe Ginger Potential as Alternative Treatment for Chronic Respiratory Diseases
Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

BRC SosMed

 facebook   google plus    twitter    linkedin    youtube  
 
           youtube

Home

THE GINGER POTENTIAL AS ALTERNATIVE TREATMENT FOR CHRONIC RESPIRATORY DISEASES

Pusat Studi Biofarmaka LPPM-IPBBy: drh. Aulia Andi Mustika, MSi (Secretary Division of Biopharmaca Product Development).



Potensi Jahe Sebagai Alternatif Penanganan Chronic Respiratory Diseases

Tanaman obat sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia dalam upaya pencegahan dan pengobatan penyakit serta peningkatan daya tahan tubuh. Banyak tanaman obat dan ramuan khas obat tradisional atau obat asli Indonesia dimiliki oleh setiap suku bangsa (etnis) di Indonesia. Salah satu tanaman obat Indonesia yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah jahe (Depkes 2000). Jahe banyak dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional antara lain batuk, luka dan alergi gigitan serangga serta pengobatan untuk infeksi bakteri karena memiliki aktifitas anti mikroba yang baik (Amalia et al. 1995). Pada hewan, jahe dimanfaatakan untuk pengobatan kembung (bloat) (Ma’sum & Murdiati 1991), influenza dan mastitis (Gultom et al. 1991). Pengobatan dengan menggunakan tanaman obat memiliki beberapa keuntungan, yaitu relatif aman untuk dikonsumsi, memiliki toksisitas yang rendah serta tidak meninggalkan residu.

Chronic Respiratory Diseases (CRD) merupakan penyakit pernapasan pada ayam yang ditemukan pada semua kelompok umur yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum (M. gallisepticum). Mycoplasma gallisepticum merupakan organisme prokaryotik terkecil, termasuk kedalam kelas molicutes yang memiliki dinding sel lunak. Sel mycoplasma tidak memiliki dinding sel, tetapi dikelilingi oleh 3 lapis plasma membran yang elastic. Penyakit CRD mempunyai arti ekonomi yang cukup penting dalam intensifikasi peternakan ayam karena penyakit ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Menurut OIE (2007) CRD masuk dalam notifiable diseases, artinya jika terjadi kasus CRD di lapang harus segera dilaporkan ke pemerintah untuk segera ditanggulangi. Penggunaan antibiotika untuk pengobatan penyakit pada ayam sudah dibatasi. Informasi tentang bahaya resistensi dan residu antibiotik pada produk pangan khususnya daging ayam dan telur semakin penting seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan penyediaan bahan makanan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).

Senyawa yang terdapat pada jahe yang berperan sebagai anti M. gallisepticum adalah gingerols dan zingiberen. Kedua senyawa tersebut bersifat non polar, sehingga larut dalam pelarut n-heksan yang bersifat non polar. Hal ini sesuai dengan prinsip ”like dissolves like” yang berarti suatu zat akan larut pada pelarut dengan kepolaran yang hampir sama. Zingiberen dalam jahe termasuk dalam golongan minyak atsiri. senyawa tersebut diduga mampu mencegah terbentuknya membran sel M. gallisepticum. Minyak atsiri berperan sebagai anti mikroba dengan cara mengganggu proses terbentuknya membran atau dinding sel bakteri, sehingga tidak terbentuk atau terbentuk tidak sempurna. Minyak atsiri yang aktif sebagai anti bakteri pada umumnya mengandung gugus fungsi hidroksil (-OH) dan karbonil. Gingerol merupakan senyawa turunan fenol yang berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses adsorbsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Diduga peran dari gingerol dalam mempengaruhi lisisnya membran sel M. gallisepticum sangat besar. Fenol pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol kedalam sel dan menyebabkan presipitasi dan denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran mengalami lisis.

Kata kunci : Jahe, M. gallisepticum, E. coli, zingiberen, gingerols.

References

Amer M, Bayomi K, Zenab, Gera S dan Hanafei A. 2009. Field Study on control of chronic Respiratory diseases in vertically infectd broiler chick. Veterinary Medical Journal.
Bywater R, J. 1991. Macrolide and Lincosamide Antibiotics. Part III. The Control of Infectious Diseases ; Chemotheraphy in : Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. Fifth edition. By G. C. Brander, D. M. Pugh, R. J. Bywater and W. L. Jenkins. ELBS with Bailliere Tindall. Educational Low-priced Book Scheme. Funded by the British Goverment.
Harborne JB. 2006. Metode fitokimia: penuntun cara modern menganalisis tumbuhan. Ed ke-2.Penerbit ITB. Bandung.
Juliantina F, Citra DA, Nirwani B, Nurmasitoh T dan Bowo ET. Manfaat Sirih Merah (Piper crocatum) Sebagai Agen Anti Bacterial Terhadap Bakteri Gram Positip dan Gram Negatip. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia. 2008. Jakarta.
Ley, D. H. 2003. Mycoplasma gallisepticum Infection. CD Rom version produced and distributed by lowa state press. A Blackwell Publishing Company.
OIE . 2007. Quarterly Epidemiology Report. October–December 2007 (Asian and pacific region). Published by the OIE the Regional Representation for Asia and the Pacific in Cllaboration with the Secretariat of the Pacific Community. Sanseido BLDG.
Soeripto. 1990. Efikasi Antibiotika Makrolide Untuk Pencegahan Penyakit Pernafasan Menahun dan Pengaruhnya Terhadap Kenaikan Bobot Badan Ayam Pedaging. BBALITVET. Bogor.
Soeripto. 1996. Resistance Pattern of Microbial Agents in The Livestock Production. Indonesian Agricultural Research And Development Journal. The Agency For Agricultural Research and Development. Bogor.
Soeripto. 2000. Penyakit Pernafasan Menahun Pada Ayam. Kumpulan Makalah Poultry Refresher Course. Bogor.

<aam/ta>
Back to BRC Article.....

BRC Site Statistics

  • Unique Visits Today296
  • Unique Visits Yesterday111
  • Visits This Week1400
  • Visits Previous Week1332