Biopharmaca BiofarmakaAntibacterial Activity of Streptococcus Mutans, Toxicity Test and Phytochemical Content On Betel Leaf (Piper Betle) and Saga Leaf (Abrus Precantorius)
Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

BRC SosMed

 facebook   google plus    twitter    linkedin    youtube  
 
           youtube

Home

ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF STREPTOCOCCUS MUTANS, TOXICITY TEST AND PHYTOCHEMICAL CONTENT ON BETEL LEAF (PIPER BETLE) AND SAGA LEAF (ABRUS PRECANTORIUS)

Pusat Studi Biofarmaka LPPM-IPB

By: Nunuk Kurniati Nengsih, S.Farm (Secretary Division of Division of Biopharmaca Product Development).



Aktivitas Antibakteri Streptococcus Mutans, pada Daun sirih (Piper betle) dan Daun saga (Abrus Precantorius)

Keanekaragaman hayati berupa tanaman obat yang berkhasiat sebagai antimikrob menjadi salah satu pilihan bahan alam yang perlu dimanfaatkan dan diteliti. Potensi ekstrak tunggal tanaman perlu ditingkatkan kemampuan dan juga stabilitasnya, mengingat potensi suatu antimikrob sangat dipengaruhi oleh panas, cahaya dan juga pH (Puttarak et al. dan Franje et al. 2010).

Kecenderungan masyarakat memanfaatkan berbagai bahan alam meningkatkan arah penelitian. Pada penggalian potensi berbagai bahan yang berasal dari kekayaan alam Indonesia. contoh tanaman yang sudah banyak dipakai sebagi obat untuk penyakit gigi dan mulut. Beberapa tanaman obat yang berpotensi sebagai anti bakteri terhadap S mutans diantaranya saga, sirih, kemuning, temulawak namun ekstrak tanaman baru diuji secara tunggal.

Pada daun sirih (Piper betle L) dan Saga (Abrus precantorius L), memiliki potensi sebagai obat fitofarmaka. Karakteristik suatu tanaman sebagai fitofarmaka didasarkan tanaman tersebut memiliki potensi sebagai: antimikroba, antioksidan, antifungi, antihepatoprotektor, antiinfllamasi dan sebagainya. Kemampuan ekstrak tunggal dapat ditingkatkan melalui mekanisme formulasi, sehingga ekstrak gabungan dua tanaman obat memiliki daya inhibisi yang lebih baik dari ekstrak tunggalnya (Iswantini 2004).

Melalui kombinasi kedua tanaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan bioaktifitas sebagai antibakteri dan efeknya kemudiaan akan ditentukan formula yang memiliki kolerasi terbaik antara nilai aktivitas antibakteri dan potensi hayatinya. Sehingga dapat diketahui taraf kombinasi yang sesuai untuk menghasilkan potensi bioaktifitas yang lebih baik.

Telah dilakukan skrining fitokimia secara kualitatif, uji toksisitas metoda (BLST) menggunakan larva udang artemia salina dan uji aktivitas antibakteri terhadap streptococcus mutans menggunakan metoda difusi agar pada ekstrak air, ekstrak etanol 30%, ekstrak etanol 70% dan ekstraketanol 96% dari daun saga dan daun sirih. Selanjutnya dilakukan uji lanjutan terhadap kombinasi ekstrak air daun sirih dan daun saga menggunakan metode difusi agar. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Diperkirakan bahwa ada korelasi antara aktivitas antibakteri dan toksisitas dan kandungan fitokimianya.

Kata Kunci: BLST, metoda difusi, Streptococcus mutans, daya hambat

References

[AOAC] Association of Official Analytical Chemist. 2006. Official Methods of Analysis. Ed ke-14. Arlington: Association of Official Analytical Chemist.
Franje CA et al. 2010. Differential Heat Stability of Amphenicols Characterirized by Structuraldegradation, Mass Spectrometry and Antimicrobial Activity. Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis. 53: 890-877.
Iswantini D, Darusman LK, Rahminiwati M, Iskandar HR. 2004. Formula ekstrak gabungan Apium Graveolens dan Sida RhombifoliaL sebagai fitofarmaka untuk penyakit Gout : inhibitor xantin oksidase. http://repository.ipb.ac.id/hamdle/123456789/4024 

<noek/ta>
Back to BRC Article.....

BRC Site Statistics

  • Unique Visits Today193
  • Unique Visits Yesterday18
  • Visits This Week1324
  • Visits Previous Week1053