Biopharmaca BiofarmakaFGD in the Framework of Market Development & Jamu Industry in Sukoharjo, Central Java
Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

BRC SosMed

 facebook   google plus    twitter    linkedin    youtube  
 
           youtube

Home

FGD IN THE FRAMEWORK OF MARKET DEVELOPMENT & JAMU INDUSTRY IN SUKOHARJO, CENTRAL JAVA

Pusat Studi Biofarmaka LPPM-IPBBy: Wulan Tri Wahyuni (Secretary Division of Community Empowerment and Development of Biopharmaca Market).



Diskusi Kelompok Terarah dalam Rangka Pengembangan Pasar dan Industri Jamu di Sukoharjo, Jawa Tengah

Sukoharjo merupakan kota penghasil jamu terbesar di Indonesia. Sekitar 67 produsen jamu baik skala kecil maupun besar berada di Sukoharjo. Dalam rangka pengembangan pasar dan industri jamu di Sukoharjo, sinergi yang kuat antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sangat diperlukan. Pusat Studi Biofarmaka, LPPM - Institut Pertanian Bogor (PSB LPPM-IPB) melalui divisi Pengabdian pada Masyarakat dan Pengembangan Pasar Biofarmaka (PMPPB) bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI mengadakan sebuah diskusi kelompok terarah dalam rangka pengembangan pasar dan industri jamu di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kegiatan ini bertujuan menginventarisasi dan mengevaluasi potensi, tantangan/permasalahan yang dialami stakeholder jamu, khususnya di Sukoharjo untuk sama-sama dicari pemecahannya. Sebanyak 47 peserta yang berasal dari berbagai instansi, seperti Gabungan Pengusaha Jamu (GP JAMU), Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI), Industri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Tengah, Dinas Kesehatan Kota Sukoharjo (DKK), Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sukoharjo, akademisi dari IPB dan UNS, Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang, serta pedagang jamu Sukoharjo ikut serta pada kegiatan ini. Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo sangat mendukung kegiatan yang diselenggarakan hari Sabtu, 9 Nopember 2013 ini.

Pada kegiatan ini berhasil diinventarisasi sejumlah kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh produsen jamu, antara lain terjadinya kelangkaan bahan baku pada musim tertentu, kualitas bahan baku yang tidak konstan, sulitnya mendapatkan izin edar produk, sulitnya memenuhi persyaratan BPOM untuk mendapatkan perizinan produk terutama berkaitan dengan higinitas produk (kandungan mikroba), adanya jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO) yang merusak citra jamu, serta masalah permodalan. Dalam diskusi juga terungkap harapan pelaku industri jamu agar diberi bimbingan dalam proses registrasi produk, terutama yang berkaitan dengan analisis produk untuk memenuhi persyaratan perizinan. Produsen jamu mengungkapkan harapan agar jamu yang sudah didukung saintifikasi jamu dapat masuk ke dalam sistem jaminan sosial nasional yang akan diluncurkan mulai tahun 2014 yang akan datang. Lebih jauh lagi diharapkan adanya upaya mempertahankan jamu sebagai awarisan budaya dengan memasukkan mata pelajaran jamu sebagai muatan lokal bagi siswa sekolah dasar, adanya iklan layanan masyarakat yang mengangkat citra jamu, serta iklan layanan masyarakat mensosialisasikan bahaya jamu yang mengandung BKO. Pada kesempatan ini juga dibahas mengenai pasar jamu Nguter yang dibangun oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan RI mulai tahun 2013. Pasar yang sedang dalam proses pembangunan ini diharapkan menjadi pasar jamu terbesar di Indonesia yang mendukung perkembangan jamu.

FGD Sukoharjo   FGD Sukoharjo

<wulan/ta>
Back to BRC Article.....

BRC Site Statistics

  • Unique Visits Today331
  • Unique Visits Yesterday229
  • Visits This Week1574
  • Visits Previous Week1348