Biopharmaca BiofarmakaBenefit of Java Tea (Orthosiphon aristatus)
Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

BRC SosMed

 facebook   google plus    twitter    linkedin    youtube  
 
           youtube

Home

BENEFIT OF JAVA TEA (ORTHOSIPHON ARISTATUS)

Pusat Studi Biofarmaka LPPM-IPBBy: Susi Indariani, STP., MSi (Secretary Division of Collaboration & Networking).




Manfaat Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

Tanaman kumis kucing termasuk ke dalam divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, keluarga Lamiaceae, genus Orthosiphon, dan spesies Orthosiphon spp. Tanaman ini mempunyai sinonim nama latin yaitu Orthosiphon stamineus Bent. Tanaman ini disebut kumis kucing karena kumpulan sari bunganya yang panjang dan menjulur dari dua sisi yang berbeda sehingga mirip dengan kumis kucing. Terdapat dua jenis kumis kucing yaitu kumis kucing dengan bunga berwarna ungu dan kumis kucing dengan bunga berwarna putih.

Tanaman yang umumnya tumbuh liar ini, kini banyak ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman obat. Bagian tanaman kumis kucing yang umumnya digunakan sebagai obat adalah bagian daunnya terutama bagian pucuk daun karena bagian ini memiliki kandungan bahan obat lebih tinggi dibanding dengan bagian yang lain (Puspita 2007). Hal ini didukung oleh penelitian Harinu (1989) yang menunjukkan bahwa daun muda tanaman kumis kucing memiliki khasiat diuretik yang lebih tinggi dibandingkan dengan daun tua.

Tanaman kumis kucing mempunyai khasiat untuk penyakit yang berkaitan dengan saluran urin, hipertensi, reumatik, diabetes melitus, peradangan, dan kelainan menstruasi (Awale et al. 2003). Kumis kucing juga mempunyai kemampuan sebagai antioksidan. Menurut Khamsah et al. (2006), kemampuan kumis kucing dalam menangkap radikal bebas tidak hanya disebabkan oleh komponen fenol, tetapi juga oleh komponen terpenoid lainnya.

Penelitian lebih lanjut terhadap kemampuan kumis kucing sebagai antidiabetes telah banyak dilakukan. Berdasarkan penelitian Minggawati (1990), pemberian infus kombinasi (daun kumis kucing 0.129 g/kg bb dan daun sambiloto 0.3 g/kg bb) mempunyai efek penurunan yang lebih besar dibandingkan dengan infus daun sambiloto saja. Hal ini menunjukkan adanya efek sinergisme antara kumis kucing dan sambiloto. Penelitian oleh Sriplang et al. (2007) menunjukkan bahwa ekstrak air dari kumis kucing, memiliki pengaruh signifikan dalam menurunkan kadar glukosa plasma darah dan meningkatkan HDL plasma dengan pemberian ekstrak 0.5 g/kg dan 1.0 g/kg berat badan tikus. Sriplang et al. (2007) juga menyatakan bahwa pemberian ekstrak sebanyak 100 µg/ml secara in situ pada pankreas berpotensi dalam menginduksi sekresi insulin. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Myint et al. (2003), pemberian ekstrak air kumis kucing dari 25 gram daun kumis kucing secara signifikan menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes sebesar 35% jika dibandingkan dengan kontrol. Kemampuan antioksidan dari kumis kucing juga diduga dapat mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit diabetes dan komplikasinya (Jung et al. 2006).

Pustaka
Awale S, Tezuka Y, Banskota AH, Adnyana IK, Kadota S. 2003. Nitric oxide inhibitory isopimarane-type diterpenes from Orthosiphon stamineus of Indonesia. J Natural Products 66:255–258
Harinu NKDA. 1989. Perbandingan Khasiat Diuretika dari Infus Daun Muda dan Daun Tua Tanaman Kumis Kucing (Orthoshiphon stamineus Benth) pada Kelinci [Skripsi]. Surabaya : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Airlangga.
Jung UJ, Lee MK, Park YB, Jeon SM dan Choi MS. 2006. Antihypeglycemic and antioxidant properties of caffeic acid in DB/DB mice. JPET Fast Forward 106:105-163.
Khamsah SM, Akowah G, Zhari I. 2006. Antioxidant activity and phenolic content of Orthosiphon stamineus Benth from defferent geographical origin. J Sustainability Sci & Management 1(2):14-20. 
Minggawati, 1990. Studi Perbandingan Pengaruh Infus Kombinasi Daun Sambiloto dan Daun Kumis Kucing (7:1) dengan Infus Kedua Tumbuhan Tersebut dalam Keadaan Tunggal terhadap Perubahan Kadar Glukosa Darah Kelinci pada Uji Toleransi Glukosa Oral [skripsi]. Surabaya : Fakultas Farmasi WIDMAN.
Myint Y, Chit K, Than A. 2003. Orthosiphon aristatus B.L. in type 2 diabetes mellitus. Proceeding of the 18th International Diabetes Federation Congress; Paris, 24-29 Agustus 2003.
Puspita ID. 2007. Mengeruk khasiat kumis kucing. http://www.agrina-online.com. [30 September 2009].
Sriplang K, Adisakwattana S, Rungsipipat A, Yibchok-anun S. 2007. Effects of Orthosiphon stamineus aqueous extract on plasma glucose concentration and lipid profile in normal and streptozotocin-induced diabetic rats. J Ethnopharmacol 109 : 510–514.

<susi/ta>
Back to BRC Article.....

BRC Site Statistics

  • Unique Visits Today291
  • Unique Visits Yesterday89
  • Visits This Week1374
  • Visits Previous Week1240