Biopharmaca BiofarmakaAsam Gelugur, si Buah dari Medan

ASAM GELUGUR SI BUAH DARI MEDAN

Pusat Studi Biofarmaka Tropika

Oleh Divisi Kerjasama dan Jejaring TropBRC.




Asam gelugur (Garcinia atroviridis Griffith et Anders) termasuk dalam famili Clusiaceae. Penyebaran tanaman di Indonesia berada di pulau Sumatera dan paling banyak di provinsi Sumatera Utara dan Aceh. Tanaman ini berbentuk pohon dengan tinggi bisa mencapai 30 m lebih dan buah mirip ceremai dengan diameter sekitar 10 cm. Provinsi Sumetera Utara merupakan salah satu sentra produksi asam gelugur terutama di Kabupaten Pematang Siantar. Masyarakat Sumatera menggunakan buah tanaman ini sebagai bumbu masakan untuk pengganti asam jawa. Budidaya tanaman di lapangan belum dilakukan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari keberadaan tanaman yang masih tidak beraturan baik lokasi maupun jarak tanam. Tanaman asam gelugur diperkirakan berbuah pertama pada umur 7-10 tahun. Masyarakat menanam pohon asam gelugur bukan sebagai tanaman utama tetapi sebagai pohon pelengkap. Mereka menanam di halaman rumah atau di kebun dengan jumlah sekitar 1-10 pohon (Gambar 1).

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB diperoleh informasi, bahwa desa Parhorasan Nauli Kecamatan Siantar Kabupaten Pematang Siantar merupakan salah satu desa yang warganya bermata pencaharian sebagai pembuat dan penjual simplisia asam gelugur. Mereka mendatangkan bahan baku buah selain dari daerah sekitar juga dari desa atau kecamatan lain. Buah yang akan di rajang tidak terlalu muda atau tua sehingga simplisia yang dihasilkan bagus, karena jika telalu matang buah basah yang dibutuhkan untuk 1 kg kering membutuhkan sekitar 6 kg buah segar. Rata-rata dari 4-5 kg buah segar akan menjadi 1 kg simplisia kering. Kegiatan yang dilakukan masyarakat desa ini adalah pascapanen mulai dari perajangan, penjemuran dan pengepakan. Harga per kg simplisia bisa berubah-ubah tergantung pada ketersediaan bahan di lapangan. Berdasarkan informasi dari petani bahwa panen raya buah terjadi pada bulan November-Desember dan harga simplisia bisa turun. Harga buah segar Rp 6.000-8.000/kg dan pada musim panen raya harga buah bisa Rp 2.000-3.000/kg yaitu pada saat musim hujan menjelang musim kemarau. Harga kering simplisia asam gelugur di petani berkisar antara Rp 20.000-40.000/kg dan harga tersebut tergantung pada musim. Simplisia mereka jual ke pasar atau ke tengkulak. Permintaan simplisia asam gelugur sangat tinggi terutama dari provinsi disekitar Sumatera utara seperti Riau. Mereka menjadikan simplisia asam gelugur sebagai bahan baku untuk minuman. Selain di produksi di dalam negeri simplisia asam gelugur juga di ekspor ke Malaysia dan Thailand. Proses pembuatan simplisia buah asam gelugur dapat dilihat pada Gambar 2.

Selain melihat proses pascapanen juga melihat pohon asam gelugur secara langsung di lapangan. Kondisi di lapangan pohon asam gelugur bercampur dengan tanaman lain dalam satu areal kebun. Pohon asam gelugur di lapangan ukurannya bervariasi mulai dari yang berumur 10 tahun sampai lebih dari 30 tahun. Satu pohon mampu menghasilkan buah puluhan bahkan ratusan kg. Bobot satu buah bisa mencapai 200-300 g (Gambar 3).

Sumber: Laporan Penelitian (Narsum: Taopik Ridwan, MSi/peneliti Trop BRC)

 


<ta>
Back to TropBRC Home....