INFO: IPB NEWS TROP BRC IPB UNIVERSITY BAHAS PENGEMBANGANNETWORK PHARMACOLOGY TAHUN 2022

Pusat Studi Biofarmaka Tropika

Yth Bapak/Ibu,
Berikut kami informasikan mengenai IPB News yang diterbitkan pada kumparan.com oleh akun resmi IPB University. 



Poster


Pusat Riset Biofarmaka Tropika (Trop BRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menggelar workshop Network Pharmacoloy 2022, (17-18/3). Pesatnya perkembangan dunia medis dan teknologi menjadi latar belakang workshop ini diadakan. Terutama, pengobatan presisi menggunakan kemajuan komputerisasi dengan memanfaatkan biodiversitas Indonesia. Bahkan obat dari tanaman herbal kini dapat diracik secara canggih sebagai salah satu solusi pengobatan presisi.

Kemajuan teknologi ini dikemas sebagai network pharmacology. Konsep ini memanfaatkan interaksi antar protein senyawa kandidat obat dengan penyakit yang dianalisa. Harapannya, dengan memahami interaksi antara komponen herbal atau obat dengan protein target dari suatu penyakit, pengobatan presisi dapat ditemukan.

Workshop ini menghadirkan para pakar dan akademisi dari IPB University yakni Dr Wisnu Ananta Kusuma, dosen dari Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Rudi Heriyanto MSi, dosen dari Departemen Kimia FMIPA, Dr Annisa dosen dari Departemen Ilmu Komputer FMIPA dan Nabila Sekar Ramadhanti, Peneliti Trop BRC LPPM IPB.

Workshop ini menarik minat dari kalangan akademisi hingga medis. Melalui workshop ini, para peserta mendapatkan wawasan terkait konsep network pharmacology, eksplorasi dan analisis, hingga penerapannya. Para pakar juga turut memberikan demo penggunaan perangkat lunak yang dipakai dalam analisa network pharmacology.

Adapun beberapa topik yang disinggung dalam workshop ini adalah konsep multi komponen multi target dan sinergitas dalam jamu, konsep graph mining dan implementasinya pada network pharmacology, konsep dasar machine learning dan penerapannya pada drug target interaction, hingga pencarian dan prediksi keterhubungan tanaman herbal dan penyakit menggunakan “IJAH Analytics”.

Rudi Heriyanto mengatakan obat atau pengobatan yang ideal adalah yang khasiatnya 100 persen efektif apapun kondisinya. Kriteria obat ideal lainnya juga diharapkan tidak menimbulkan efek samping. Di samping itu, obat tersebut mudah didapatkan dan dikonsumsi serta biaya produksinya tidak terlalu mahal.

“Dengan kekayaan biodiversitas Indonesia, masih terdapat gap antara jumlah biofarmaka dan obat herbal terstandar yang dihasilkan. Maka dengan berbagai riset yang ada, termasuk network phamacology, diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak produk biofarmaka,” sebutnya.

Peserta workshop ini mendapatkan fasilitas berupa modul praktikum hingga sertifikat. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk mendapatkan insight terkait pengaplikasian topik-topik tersebut di lapangan. (MW/Zul)

Sumber: kumparan.com.

<ta>
Back to TropBRC Home....