AAC-AAIC 2018

AAC-AAIC 2018

Pusat Studi Biofarmaka

AAC-AAIC merupakan komunitas aroma se-Asia dimana para pengusaha dapat bertemu dengan sesama pengusaha, peneliti dan pengembang atsiri. Asia dengan populasi 60% dari total dunia, memainkan peranan penting untuk mendorong ekonomi dunia - hari ini dan kedepannya, termasuk didalamnya adalah industri FnF (Flavor & Fragrance/Perisa & Pewangi) senilai total USD 24,45 Miliar di pasar dunia (Leffingwell, 2016). 

AAC-AAIC dikembangkan bersama oleh empat organisasi pendiri: 1. EOAI (Essential Oil Association of India) 2. DAI (Dewan Atsiri Indonesia/Indonesian Essential Oil Council) 3. CHINAEASA (China Essential Oils, Aroma and Spices Trade Association) 4. FAFAI (Flavour & Fragrance Association of India).

Dimulai dengan konferensi AAIC pertama pada tahun 2010 di Delhi, India, acara tersebut kemudian diputuskan untuk diadakan dua tahun sekali. Bali, Indonesia, menjadi tuan rumah konferensi AAIC kedua pada tahun 2012 dengan memperkenalkan dan menambahkan Aroma Expo, Aromatherapy Workshop dan kegiatan Tour Aromatik Pasca-konferensi. CHINAEASA dengan bangga berikutnya menjadi tuan rumah konferensi AAIC 2014 di Kunming, Yunnan, dimana logo AAIC ditetapkan dan digunakan secara permanen. Pada tahun 2016, Delhi, India kembali menjadi tuan rumah konferensi AAIC dan untuk pertama kalinya konferensi AAC (Asian Aromatherapy Conference) ditambahkan. Tujuannya adalah untuk memperbesar komunitas dengan menggabungkan industri hulu (AAIC) dengan hilir (AAC). Acara ini sekarang dinamakan AAC-AAIC dan diketuai oleh Feri Agustian Sholeh.

Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) LPPM IPB ikut terlibat dalam kegiatan ini sebagai koordinator kegiatan ilmiah pada acara AAIC dan juga sebagai ketua panitia lomba karya tulis populer maupun karya ilmiah minyak atsiri Indonesia. Selain itu, Dr. Irmanida Batubara (Kepala Trop BRC) menjadi salah satu invited speaker pada rangkaian acara AAIC dan sebagai chairperson acara AAC.

Kegiatan AAC – AAIC dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 23 - 26 April 2018 bertempat di Hotel Royal Ambarrukmo, mengusung tema “Pertumbuhan Berkelanjutan Industri Aromatik melalui Penguatan Rantai Nilai dan Penelitian Terapan” (Sustainable Growth of the Aromatic Industry through Value Chain Empowered and Applied Research). Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi sebuah wadah yang mampu mengelola dan mendukung industri aroma berkelanjutan dan saling menguatkan antar negara. Sekitar 300 peserta dan tamu menghadiri kegiatan AAC-AAIC 2018 yang datang dari 18 negara diantaranya Indonesia, India, Jepang, USA, Bulgaria, China, Australia, Prancis, Israel, Taiwan, Korea, Spanyol, Belanda, Slovenia, Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Nepal.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan dalam event ini adalah Study Tour Pra-konferensi, Workshop Aromaterapi, Konferensi AAC, Kongres AAIC, Field Trip ke Perkebunan & Penyulingan Kayuputih, Study Tour Pasca-Konferensi, dan penyelenggaraan “LombAtsiri” (Lomba Penulisan Ilmiah dan Populer Industri Aroma) untuk pertama kalinya diperkenalkan.

Kegiatan workshop aromaterapi dilaksanakan pada hari Senin, 23 April 2018 bertempat di Ruang Kasultanan 1 (Hotel Royal Ambarrukmo). Pada sesi pertama workshop, pemaparan materi oleh Dr. Kurt Schnaubelt & Monica Haas (USA) dilanjutkan oleh Ayako Berg (Jepang); kemudian ibu Midha Aromatica (Indonesia) dan terakhir pembicara dari Prancis Dr. Pierre Franchomme. Pada tanggal yang sama juga dilaksanakan pembukaan Expo B2B yang bertempat di Ballroom Kasultanan 3, sedangkan malam harinya diselenggarakan Welcome Dinner acara AAC – AAIC dimana setiap delegasi diwajibkan menggunakan pakaian tradisonal khas Yogyakarta yaitu surjan dan lurik. Tamu undangan disuguhi dengan penampilan tari kreasi oleh Didik Ninik Thowok, penampilan tersebut mendapatkan sambutan meriah para tamu undangan.

AAC-AAIC 2018     AAC-AAIC 2018
Gambar 1. Dokumentasi kegiatan aromatheraphy Workshop 2018 dan Welcome Dinner

Rangkaian kegiatan selanjutnya yaitu Asian Aromatherapy Conference (AAC) yang dilaksanakan di Ballroom Kasultanan 2 Hotel Royal Ambarukmo pada tanggal 24 April 2018, AAC dibuka oleh perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada 1st Plenary Dr. Kurt Schnaubelt mempresentasikan tentang "Anti-tumor properties of essential oil and other aromatic components with special focus on materials from Indonesia" dan Dr. Irmanida Batubara (Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika) ditunjuk sebagai chairperson. Kemudian, dilanjutkan dengan presentasi dari Prof. Mangestuti Agil dari Universitas Airlangga Surabaya dan Dr. Li Siting yang menjelaskan tentang "Replacing Antibiotics with Essential Oils".

Kegiatan AAC juga menghadirkan pembicara lainnya dari USA, Taiwan serta China. Pembicara dari China yaitu Enping Zheng mempresentasikan terkait perkembangan aromaterapi di negaranya. Pada sesi terakhir AAC 3rd Plenary turut mengundang salah satu dokter ahli kecantikan dari Korea yaitu Dr. Jisoo Kim yang lebih banyak membahas terkait aplikasi klinis aromaterapi untuk anti aging yang berfokus pada terapi kecantikan kulit menggunakan essential oil. Selain itu, salah satu speaker dari Jepang Ayako Berg memperkenalkan Koh doh(香道)The Way of Appreciating Incense from Ancient Japanese Culture.

AAC-AAIC 2018     AAC-AAIC 2018
Gambar 2. Dokumentasi AAC saat penyerahan memento kepada pembicara pada 1st Plenary dan Sesi Foto Bersama Delegasi China

Tidak kalah menarik adalah acara AAIC yang berlangsung selama dua hari dengan mengundang berbagai pembicara dari India, Jepang, Bulgaria, Australia, China, Prancis, juga Indonesia. Pada tanggal 25 April 2018, acara AAIC dibuka langsung oleh Dr. Meika Rusli sebagai dewan penasihat Dewan Atsiri Indonesia (DAI) dan juga chairman steering committee. 1st plenary acara AAIC turut mengundang Jorge Miralles pemaparannya tentang Essential Oils, the challenge of success selanjutnya pembicara dari Indonesia Dr. Anton apriyantono terkait Challenges and Opportunities of the Indonesian Essential Oil Industry: a prespective from the sustsinsbility and new development approaches dan terakhir Ramakant Harlalka dari India.

Pada hari pertama AAIC, peserta diajak untuk mengikuti field trip ke pabrik perkebunan dan penyulingan minyak kayu putih sendang mole yang terletak di gunung kidul Yogyakarta. Peserta field trip dapat belajar dan melihat langsung proses pembuatan minyak kayu putih. Poses penyulingan di Sendang mole terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu pembuatan uap, penguapan daun, pendinginan dan pemisahan air. Metode destilasi yang digunakan adalah destilasi uap, dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari limbah daun kayu putih proses penyulingan sebelumnya.

AAC-AAIC 2018     AAC-AAIC 2018
Gambar 3. Dokumentasi field trip ke pabrik perkebunan dan penyulingan minyak kayu putih sendang mole

Acara AAIC pada hari kedua dibagi menjadi 3 sesi yaitu 1st plenary, 2nd plenary dan juga sesi brekout. Pada sesi terkahir dibagi menjadi beberap tema yaitu (1) Research Development and Product Development, (2) Market dan suistainability, dan (3) Nano Technology. Dr. Irmanida Batubara menjadi salah satu pembicara pada sesi tersebut, materinya berjudul “Effects of Inhaled Citronella Oil, Patchouli Oil and Related Compounds on Rat Body Weight and Brown Adipose Tissue Sympathetic Nerve”.

AAC-AAIC 2018     AAC-AAIC 2018
Gambar 4. Dokumentasi (A) Dr Irmanida Batubara saat presentasi pada AAIC (B) Salah satu peserta menghirup salah satu sampel akar wangi dari india

Penutupan rangkaian acara AAC – AAIC 2018 dilaksanakan di pelataran Candi Prambanan. Acara ini sekaligus dengan pengumuman pemenang hasil lomba atsiri oleh ketua panita lomba yaitu Dr. Irmanida Batubara. Penyelenggaraan lomba atsiri ini pertama kalinya diadakan dalam event ini, diselenggarakan oleh Dewan Atsiri Indonesia (DAI) dalam rangka mendorong peningkatan budaya IPTEK bidang atsiri di Indonesia dan menjembatani hasil penelitian atsiri di Indonesia dan para pemangku kepentingan lainnya. Diharapkan dari lomba ini akan terjadi kolaborasi yang kuat antara lembaga penelitian dan akademisi baik dengan petani, penyuling, terutama dengan industri untuk menciptakan suatu inovasi yang selanjutnya mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia serta pada akhirnya dapat memberi kontribusi tambahan kepada devisa negara.

AAC-AAIC 2018     AAC-AAIC 2018
Gambar 5. Dokumentasi saat foto bersama di acara penutupan AAIC

Peserta yang mengikuti lomba ini tersebar diseluruh Indonesia berjumlah sekitar ±100 peserta akan tetapi hanya 54 peserta yang layak dan berhasil untuk mengikuti tahap seleksi selanjutnya. Pemenang lomba untuk kategori lomba karya tulis populer yaitu Zikri Noer (Universitas Sumatera Utara), Fathor Rahman (MAN 3 Malang), dan Apriliana Rahayuningsih (Banyumas) sedangkan pemenang lomba karya ilmiah yaitu Ikhwanudin (Universitas Sumatera Utara), Yanico Hadi Prayogo (IPB), dan Khoirun Nisyak (STIKES RS Anwar Medika). Para pemenang lomba mendapatkan bantuan penelitian, piagam penghargaan maupun memento yang diserahkan langsung oleh para sponsor lomba, dan disaksikan oleh para dewan juri, ketua panitia, dan seluruh delegasi AAC-AAIC.

AAC-AAIC 2018     AAC-AAIC 2018
Gambar 6. Dokumentasi para pemenang lomba atsiri & perwakilian delegasi AAC-AAIC

Penutupan acara AAIC ditandai dengan penyerahan simbolis dari Ketua AAIC kepada salah satu delegasi China yang akan menjadi tuan rumah selanjutnya di tahun 2020. Seluruh rangkaian kegiatan AAC-AAIC mendapat antusiasme dari berbagai peserta, dan kegiatan expo B2B yang menampilkan beberapa industri aromateraphy juga mendapatkan sambutan positif dan menjadi salah satu sarana menjalin networking antar pemangku usaha industri. Acara yang mempertemukan sebanyak ± 300 peserta yang terdiri atas pebisnis aromatik, minyak atsiri serta para akademisi dari negara-negara Asia diharapkan mampu meningkatkan daya saing bisnis aromatik di Asia dan mampu mendorong pertumbuhan industri aromatik di Asia.

AAC-AAIC 2018     AAC-AAIC 2018
Gambar 7. Dokumentasi saat penyerahan simbolis dari Ketua AAIC kepada Perwakilan Delegasi China dan Suasana B2B Expo di Ballroom Kasultanan 3

 

<ta>
Back to TropBRC News....