Peningkatan Wawasan & Keterampilan Masyarakat Desa Bangkagi, Kepulauan Togean dalam Pemanfaatan Lestari Hutan Bakau

PENINGKATAN WAWASAN DAN KETERAMPILAN MASYARAKAT DESA BANGKAGI, KEPULAUAN TOGEAN DALAM PEMANFAATAN LESTARI HUTAN BAKAU

Pusat Studi Biofarmaka LPPM-IPBOleh: Dr. Wulan Tri Wahyuni, MSi (Sekretaris Divisi Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Pasar Biofarmaka).



Peningkatan Wawasan & Keterampilan Masyarakat Desa Bangkagi, Kepulauan Togean dalam Pemanfaatan Lestari Hutan Bakau

Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah memiliki keindahan dan kekayaan laut yang luar biasa. Tidak hanya kekayaan dan keindahan laut, kepulauan Togean juga memiliki hutan mangrove yang sangat kaya. Desa Bangkagi merupakan salah satu Desa di wilayah Kecamatan Togean, Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah dengan potensi berupa hutan bakau yang luas. Salah satu yang khas ialah keberadaan hutan bakau yang didominasi oleh spesies Xylocarpus granatum yang berpotensi sebagai bahan baku kosmetik (Gambar 1).

PPM Togean     PPM Togean

Gambar 1. Kawasan Hutan mangrove di Desa Bangkagi, dan Tim Trop BRC Institut Pertanian Bogor, Universitas Teuku Umar, dan Universitas Tadulako pada kegiatan PPM di Desa Bangkagi.

Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya konservasi hutan bakau melalui pemanfaatan lestari dan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pengolahan X. granatum sebagai bahan baku kosmetika, Tim peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB (Trop BRC-IPB) bekerjasama dengan Universitas Teuku Umar, dan Universitas Tadulako melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) di Desa Bangkagi (Gambar 1). Kegiatan PPM ini dibuka oleh Kepala Desa Bangkagi Bapak Imran S. Labente dan pada kegiatan ini turut diserahkan tanda mata dari Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB kepada kepala Desa Bangkagi berupa bibit pepaya calina yang merupakan hasil penelitian unggulan Institut Pertanian Bogor (Gambar 2).

PPM Togean     PPM Togean

Gambar 2. Pembukaan kegiatan PPM oleh Kepala Desa Bangkagi; dan Penyerahan cendera mata oleh Kepala TropBRC-IPB.

Pada kegiatan PPM ini masyarakat dibekali keterampilan mengolah X. granatum atau secara lokal dikenal sebagai kuntao menjadi simplisia bahan baku kosmetik yang berkualitas agar dapat diterima oleh industri (Gambar 3). Di samping itu, Desa Bangkagi memiliki potensi lahan pertanian terutama di daerah bukit dan gunungnya. Selama ini banyak di antara masyarakat menanam tanaman obat seperti jahe, kunyit dan tanaman rimpang lainnya. Masyarakat belum memiliki pengetahuan mengenai cara mengolah bahan baku tersebut menjadi produk yang lebih tahan lama dan memiliki nilai tambah ekonomi. Oleh karena itu, pada kegiatan ini juga diberikan pelatihan keterampilan pembuatan minuman instant dari tanaman obat, yaitu jahe (Gambar 3). Kegiatan ini diikuti dengan sangat antusias oleh masyarakat Desa Bangkagi. Sebanyak 54 orang masyarakat (mayoritas ibu rumah tangga) mengikuti kegiatan ini.

Sebenarnya peserta kegiatan dapat lebih dari 54 orang, namun karena keterbatasan fasilitas pada tahap petama ini kegiatan diperuntukan bagi 50 orang. Masyarakat sangat senang dan mendapatkan manfaat dari kegiatan PPM yang dilaksanakan dan pada umumnya berharap kegiatan serupa akan dapat dilaksanakan kembali pada masa mendatang.

PPM Togean     PPM Togean

PPM Togean     PPM Togean

Gambar 3 Pelatihan keterampilan pembuatan simplisia dari X. granatum dan minuman instant dari tanaman obat; dan Foto bersama peserta pelatihan

<wuls/ta>

Back to TropBRC News....