ERA BARU DALAM KERJASAMA INTERNASIONAL

Pusat Studi Biofarmaka Tropika

Oleh: Anggia Murni (Divisi Kerjasama dan Jejaring)
TropBRC LPPM-IPB

Indonesia terkenal dengan kekayaan alam dan pengatahuan tradisional yang berlimpah dengan nilai ekonomis tinggi. Kekayaan ini perlu dijaga kelestariannya dan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia sesuai dengan amanat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 Indonesia terdiri atas lebih dari 13.487 pulau yang satu sama lain dipisahkan oleh lautan sehingga membuahkan 47 ekosistem yang sangat berbeda. Sedangkan berdasarkan Status Keanekaragaman Hayati Indonesia yang diterbitkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2011, keragaman spesies yang dimiliki Indonesia, terdiri atas: 707 spesies mamalia, 1.602 spesies burung, 1.112 spesies amfibi dan reptile, 2.800 spesies invertebrata, 1.400 spesies ikan, 35 spesies primata, 120 spesies kupu-kupu. Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia memiliki 450 spesies terumbu karang dari 700 spesies dunia.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi serta memiliki keanekaragaman sumber daya genetik dan ekosistem dengan karakteristik tertentu. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin beragam dan kompleks.

Dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada saat ini pemanfaatan sumber daya genetik tidak terbatas pada sumber daya genetiknya saja tetapi juga terhadap produk turunannya (derivatives) dari sumber daya genetik tersebut. Produk turunan merupakan suatu senyawa biokimia alami yang dihasilkan dari ekspresi genetik atau hasil metabolisme sumber daya hayati atau genetik. Produk turunannya tersebut dapat berupa: individu hasil persilangan/perkawinan/metode lainnya; bahan aktif dari hasil metabolisme sumber daya genetik; enzim; dan gen. 

Upaya perlindungan terhadap sumber daya genetik telah dilakukan melalui alokasi sejumlah kawasan, baik di darat, di pesisir, maupun di laut untuk dijadikan kawasan konservasi dalam berbagai bentuk seperti taman nasional, kawasan konservasi daratan dan perairan dan suaka margasatwa darat dan laut. Selain bertujuan untuk melindungi sumber daya genetik, kawasan konservasi juga dimaksudkan untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan sumber daya pesisir dan lautan dengan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

Selain itu upaya-upaya pemerintah lainnya dalam melindungi sumber daya alam Indonesia adalah dengan menetapkan undang-undang yang mengatur ataupun menjadi acuan dalam melakukan kerjasama atau membuat kontrak penelitian. Salah satu undang-undang tersebut adalah Protokol Nagoya yang diratifikasi oleh pemerintah menjadi UU Nomor 11 pada 8 Mei 2013. Undang-Undang ini mengatur mengenai Akses pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang Timbul dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati (Nagoya Protocol on Access to Genetic Resources and the Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from Their Utilization to the Convention on Biological Diversity) yang selanjutnya disebut Protokol Nagoya. Protokol Nagoya merupakan perjanjian internasional di bidang lingkungan hidup dalam kerangka Konvensi Keanekaragaman Hayati yang mengatur akses terhadap sumber daya genetik dan pembagian keuntungan yang adil dan seimbang antara pemanfaat dan penyedia sumber daya genetik berdasarkan persetujuan atas dasar informasi awal dan kesepakatan bersama.

Kekayaan alam yang kita miliki belum seimbang dengan teknologi dan peralatan yang telah ada dan belum tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keterbatasan alat dan sumber daya manusia yang kompeten dibidangnya menjadi kendala dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Kondisi ini menyebabkan kita masih membutuhkan bantuan dari pihak luar. Hal ini memerlukan pengaturan dan koordinasi yang baik serta saling menguntungkan.

Pembuatan Kontrak Kerjasama merupakan tahap yang paling krusial. Klausul-klausul dalam kontrak harus dikaji dengan teliti dan saling menguntungkan. Pengiriman materi ke luar negeri karena tidak ada laboratorium mumpuni di dalam negeri harus jelas dan transparan yang dapat disiasati dengan mensyaratkan mengajak peneliti Indonesia untuk melakukan penelitian di luar negeri, dengan demikian ada manfaat transfer teknologi dan ilmu pengetahuan.

Sumber: Undang-Undang Pemerintah RI Nomer 11 tahun 2013 tentang pengesahan Protokol Nagoya



<anggi/ta>
Back to TropBRC News....